1. Home
  2. /
  3. Terpana, Terpukau
  4. /
  5. Review The Predator: Gore,...

Review The Predator: Gore, Action, Gore, dan Komedi yang Merusak Esensi Brutal


The Predator menambah daftar panjang sekuel dari seri film Predator. Jika menghitung urutan dari film pertamanya, The Predator merupakan film keempat setelah Predator (1987), Predator 2 (1990), dan Predators (2010). Tapi jika kita mengikutsertakan kepingan crossover dalam Alien vs. Predator (2004) dan Alien vs. Predator: Requiem (2007), film ini ada di urutan keenam sebenarnya.

Lumayan banyak juga ya film tentang makhluk luar angkasa yang digambarkan buas dan berambut ala reggae ini.

Sekuel yang bisa ditonton tanpa harus menonton barisan film pendahulunya

Berbeda dengan franchise Alien yang dipenuhi balutan sci-fi yang bisa bikin kening berkerut untuk memahami jalan cerita, franchise Predator yang mengutamakan adegan aksi cenderung bisa memanjakan penonton lewat cerita yang hadir lebih santai.

Saya sendiri kurang mengikuti franchise Predator sebenarnya. Dulu saya lebih tertarik nonton Alien. Tapi harus saya akui sajian kisah terbaru dalam The Predator masih bisa cukup menghibur untuk ditonton. Sebagai penonton awam, untungnya kamu pun nggak perlu repot nonton film-film Predator sebelumnya. Kamu bisa memahami kesinambungan cerita dari film pertamanya lewat dialog antar pemain di dalam film.

via hollywoodreporter.com

The Predator dibuka dengan kedatangan makhluk rambut reggae tersebut ke bumi. Cerita kemudian digiring lewat sudut pandang Quinn McKenna (Boyd Holbrook), seorang tentara yang jadi saksi jatuhnya pesawat makhluk luar angkasa. Sebagai bukti dia telah menemukan entitas makhluk asing, Quinn mengirimkan beberapa benda yang diambil dalam pesawat tersebut ke anaknya, Rory McKenna (Jacob Tremblay).

Namun akibat ketidaktahuan sang anak yang kelewat bahagia mendapat paket dari ayah tersayangnya, Rory secara tidak sengaja malah mengirimkan sinyal dan mendatangkan Predator lain ke muka bumi.

Layaknya film Predator yang sudah-sudah, The Predator juga masih mengandalkan banyak adegan aksi. Ini film bahkan menghadirkan nuansa gore dengan cukup eksplisit dalam beberapa adegan yang memperlihatkan bagian tubuh terpotong serta limpahan darah. Tapi saya sedikit heran ketika lihat satu adegan yang menyensor tangan salah satu karakter saat dia mengacungkan jari tengahnya.

Potongan tubuh dan tumpahan darah diperlihatkan secara eksplisit, tapi jari tengah disensor? Tidak apa-apa, ini bukan masalah besar.

Editor’s Pick

  • 10 Karakter Game Terseram yang Nggak Akan Kamu Harapkan Muncul di Dunia Nyata
  • Keren! 7 Cosplay Ini Berhasil Menyamai Kostum Karakter Video Game yang Sulit Banget Ditiru
  • 10 Adegan Pertarungan Terbaik yang Ada di Film, Mana Favorit Kamu?
  • Jangan Tonton 10 Anime Ini Kalau Sebelumnya Tak Menyiapkan Tisu, Ceritanya Sedih Soalnya!

Film aksi dengan bumbu komedi yang merusak esensi brutal

Dengan banyaknya karakter yang dihadirkan di dalam film, kekuatan inti cerita terasanya kurang bisa mengimbangi. Sosok Predator yang digambarkan tangguh juga kurang dieksplorasi karena luasnya cakupan cerita yang ingin disampaikan. Bayangkan saja, selain mengisahkan Predator, film ini pun menitikberatkan sosok Will (Sterling K. Brown) dan timnya yang mengincar muatan pesawat Predator.

The Predator bahkan berpotensi untuk terjerumus sebagai film yang sekadar menjual aksi maskulinitas semata kalau saja karakter Casey (Olivia Munn) sebagai ilmuwan bukanlah perempuan.

via digitalspy.com

Tapi di antara barisan film lainnya, The Predator sedikit lebih bergengsi dengan menggandeng Shane Black – yang sukses lewat Kiss Kiss Bang Bang (2005), Iron Man 3 (2013), dan The Nice Guys (2016) – sebagai sutradaranya. Lewat tangan Black yang juga membintangi film Predator pertama, The Predator hadir dengan gaya khas sang sutradara yang sering menyelipkan unsur komedi dalam filmnya.

Yup, meski The Predator menghadirkan banyak adegan pembantaian dengan eksplisit, Shane Black memberikan sedikit penyegaran lewat unsur komedi dalam guyonan antar karakternya. Meski menghibur, sayangnya porsi komedi cenderung mengurangi esensi brutal.

via latimes.com

Saya masih bisa menikmati film ini sebagai popcorn movie standar yang bisa jadi pilihan ringan di antara banyak film bertema berat. Sebagai salah satu ciri khasnya, The Predator bahkan masih menghadirkan adegan kucing-kucingan antara manusia dengan sang Predator di balik gelapnya hutan. Ya, ada sedikit kesan nostalgia dalam adegan tersebut.

Namun secara keseluruhan, The Predator akhirnya hanya mengandalkan plot sederhana yang dibangun sebagai kesinambungan benang merah dengan film pendahulunya. Ditutup dengan ending yang mengindikasikan adanya kemungkinan sekuel lagi, kamu penggemar franchise Predator pastinya bakal kegirangan karena kisah lanjutannya bisa aja diproduksi dalam beberapa tahun mendatang.

– Advertisement –


sumber: selipan



loading...