1. Home
  2. /
  3. Terpana, Terpukau
  4. /
  5. Review Overlord: Lebih Mengutamakan...

Review Overlord: Lebih Mengutamakan Aksi, Abai dalam Mengulas Eksperimen Gila Nazi


Ini adalah film yang menjadikan kisah tentang tentara Nazi dengan eksperimen gilanya sebagai  benang merah utama. Tapi sepanjang durasi, Overlord malah berputar-putar menceritakan segelintir tentara yang mengemban satu tugas, dan mereka terjebak di daerah perbatasan Prancis.

Diawali dengan aksi dan drama

via imdb.com

Overlord dibuka dengan adegan yang fantastis. Desing tembakan hingga dentuman ledakan ikut memacu adrenalin penonton saat menyaksikan sekelompok tentara Amerika yang tengah bertugas dalam suatu misi. Mereka ditugaskan untuk menghancurkan menara komunikasi tentara Nazi di perbatasan Prancis demi melemahkan pertahanan lawan.

Singkat cerita, hanya sebagian dari mereka yang selamat: Boyce (Jovan Adepo), Tibbet (John Magaro), Chase (Ian De Caestecker), Dawson (Jacob Anderson), dan Kopral Ford (Wyatt Russell). Kelima tentara tersebut kemudian nggak sengaja bertemu dengan warga setempat yang membantu mereka dalam melanjutkan misi. Adalah Chloe (Mathilde Olivier), warga setempat yang diceritakan berjenis kelamin perempuan.

Hmm… apakah film yang bernuansakan ‘maskulin’ punya kewajiban untuk memasukkan karakter sebagai pemanis di dalam cerita?

Sosok Chloe si pemanis dalam Overlord/via denofgeek.com

Sampai sini Overlord terlihat sebagai tipikal film action dengan sedikit bumbu drama yang diselipkan di dalamnya. Drama tersebut bisa dibilang hadir lewat Chloe yang hanya hidup berdua dengan sang adik, Paul (Gianny Taufer), sambil merawat bibinya yang sakit akibat eksperimen Nazi.

Eksperimen gila yang ingin melebihi Tuhan

Eksperimen Nazi tersebut akhirnya baru mulai disinggung di pertengahan durasi. Well, saya sedikit kecewa sih sebenarnya karena hal tersebut hanya dimunculkan sekilas. Ibaratnya eksperimen itu hanya untuk perkenalan bagi penonton pada apa yang akan dihadapi para tentara, saat nantinya mereka menjalankan misi utama.

via ew.com

Padahal saya penasaran dan ingin tahu lebih dalam perihal percobaan gila yang menggunakan aspal sebagai bahan baku utamanya. Bisa kamu bayangin, ada ilmuwan yang terobsesi menyuntikkan ter ke tubuh manusia? Alih-alih dieksplorasi lebih jauh, penonton hanya sekadar diberi tahu kalau eksperimen tersebut diniatkan menjadi senjata massal untuk menciptakan tentara yang sukar dikalahkan.

Editor’s Pick

  • Goosebumps 2: Haunted Halloween yang Kalah dari Film Pertamanya
  • Review First Man: Biopik Menyentuh lewat Sudut Pandang Neil Armstrong

Di sini akhirnya saya baru bisa mengerti makna dari penggunaan judul Overlord, yang jika diterjemahkan secara harafiah berarti “Melebihi Tuhan”. Ya, ilmuwan Nazi seolah bertindak di luar batas untuk menghidupkan orang yang sudah mati, sekaligus tetap menggunakan manusia yang masih hidup sebagai kelinci percobaan. Hal ini juga menjadi ironi karena lokasi laboratoriumnya diceritakan ada di ruang bawah tanah sebuah gereja.

Terlepas dari isu ketuhanan, pertanyaan terkait eksperimen tetap dibiarkan menggantung. Saya heran kenapa ada hasil eksperimen yang dianggap tak berbahaya seperti bibi dari Chloe, tapi di sisi lain ada hasil eksperimen yang bisa bertindak brutal dan nggak kenal ampun. Setiap individu yang disuntik sepertinya mendapat reaksi yang berbeda tergantung kondisi. Bingung ‘kan?

Film kelas B dari produser kelas A

Daya tarik Overlord, yang juga jadi bahan promosinya, memang terletak di nama J. J. Abrams yang duduk di bangku produser. Ya, hanya sebatas produser. Sedangkan bangku sutradara Overlord diduduki oleh Julius Avery yang lebih sering membuat film pendek. Ia baru tercatat menyutradarai satu film panjang lewat Son of a Gun di tahun 2014.

Barisan pemainnya sendiri diisi oleh nama-nama asing dengan wajah yang juga kurang familiar. Overlord akhirnya menjadi semacam film kelas B yang tampil klise dengan menggunakan unsur aksi, kekerasan, dan darah. Coba misalkan film ini nggak diproduseri oleh J. J, Abrams, apakah pihak studio bisa lebih percaya diri dalam mempromosikan Overlord?

via paramount.com

Tapi Overlord nggak hanya mengandalkan nama Abrams semata. Naskah Overlord ditulis oleh duet Billy Ray yang pernah menulis The Hunger Games (2012) dan Captain Phillips (2013), serta Mark L. Smith yang pernah menulis Vacancy (2007) dan The Revenant (2015). Kolaborasi Ray dan Smith akhirnya mampu menghadirkan kisah Overlord yang dipenuhi aksi, drama, hingga gore yang nggak bisa dipandang sebelah mata. Saking sadisnya, beberapa adegan di dalam bioskop cukup kentara terkena sensor.

Editor’s Pick

  • Review Munafik 2 dan Karakter Abu Jar yang Jadi Sumber Banyaknya Pertanyaan Menggantung
  • Review Johnny English Strikes Again: Aksi Mr. Bean Sebagai Mata-Mata?

Overlord memang terhitung menjanjikan kalau melihat produser dan penulis naskahnya. Eksekusi filmnya juga bisa tampil dengan intensitas ketegangan yang hadir dengan akting para pemain yang nggak bisa dibilang jelek. Tapi kalau kamu menginginkan penjelasan lebih tentang eksperiman Nazi yang dimaksudkan sedari awal, sebaiknya kamu nggak perlu terlalu berharap banyak pada Overlord.

– Advertisement –

sumber: selipan



loading...