1. Home
  2. /
  3. Terpana, Terpukau
  4. /
  5. Review Halloween (2018): Sekuel...

Review Halloween (2018): Sekuel Rasa Nostalgia dengan Teror Menggila


Jika saya harus menyebut karakter ikonik yang ada di film horor, secara otomatis jari saya bakal mengarah ke Michael Myers dari Halloween. Pembunuh berdarah dingin ini semacam punya aura  yang nggak dipunyai karakter antagonis lainnya macam Freddy Krueger, Chucky, atau Jason.

Perhatikan foto di bawah ini…

Michael Myers/via polygon.com

Kalau saya ketemu dia di dunia nyata, mungkin saya bakal terdiam nggak bergerak saking takutnya. Bahkan kayaknya saya nggak akan punya waktu buat berteriak ketakutan, karena saya udah keburu kena sabetan goloknya.

Cukup deh bicara soal Michael Myers. Sekarang kita ulas film Halloween yang baru saja dirilis. FYI, film ini merupakan film kesebelas dari keseluruhan franchise Halloween. Cukup banyak juga ya! Kalau Halloween dijadikan sinetron mungkin udah masuk episode 2000 nih.

Film kesebelas dalam franchise yang jadi direct sequel film pertamanya

Pemilihan judul Halloween (tanpa sub judul apa pun) sedikit membingungkan juga sih. Film pertamanya yang dirilis di tahun 1978 silam membawa judul yang sama. Belum lagi remake Halloween dari Rob Zombie yang rilis tahun 2007 juga memakai judul serupa.

Sebagai penjelas, Halloween versi 2018 ini merupakan sekuel dari film originalnya, sekaligus mengenyampingkan 10 film yang menyusulnya. Jadi kamu nggak perlu repot menonton semua film Halloween; kamu cukup nonton film pertamanya doang. Kalaupun kamu belum pernah nonton sama sekali, jalan cerita yang dihadirkan dalam Halloween 2018 masih bisa dengan mudah kamu ikuti kok.

Halloween mengambil latar waktu 40 tahun sejak Michael Myers pertama kali menebar teror dengan membantai beberapa orang di malam Halloween. Karakter Laurie (Jamie Lee Curtis) yang jadi survivor di film pertama, diceritakan melanjutkan hidup sejak kejadian menyeramkan tersebut. Tapi saking seramnya peristiwa yang dialaminya tersebut, Laurie menjadi trauma dan parno setiap malam Halloween menjelang.

Apa yang dilakukan Laurie kemudian terbilang keren. Meski hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang hampir merenggut nyawanya, Laurie tumbuh jadi perempuan tangguh yang mawas diri. Ia melengkapi tempat tinggalnya dengan kamera pengawas dan lampu sorot. Ia bahkan belajar menembak untuk membela diri kalau-kalau Michael kembali mengincar dirinya meski sudah tertangkap dan tinggal di rumah sakit jiwa.

Laurie berlatih untuk melindungi dirinya/via indianexpress.com

Dan yang ditakutkan pun terjadi. Saat Michael (Nick Castle) dipindah dari rumah sakit jiwa ke tempat pengasingan, bis yang membawanya terperosok. Walhasil Michael pun berhasil kabur. Laurie yang mengetahui kabar tersebut akhirnya berusaha menyelamatkan keluarga kecilnya (Laurie ikut program KB mungkin), seraya mencoba membunuh Michael agar mereka bisa hidup dengan tenang.

Ya, selama Michael masih hidup, Laurie sadar kalau ia bakal terus diincar Michael. Dan karena Michael udah nggak bisa dibujuk untuk bertaubat atau dimasukkan ke pesantren, maka satu-satunya cara untuk menghentikan Michael adalah dengan membunuhnya.

Ngomong-ngomong, kaburnya Michael dalam film secara kebetulan terjadi di malam Halloween. Iya lah, kalau kejadiannya malam tahun baru mungkin judul filmnya jadi New Year’s Eve.

Halloween: macam reka ulang dari film originalnya

via slashfilm.com

Sebagai sebuah sekuel, sebenarnya apa yang ditawarkan Halloween terbaru ini nggak ada bedanya sama film pendahulunya. Premis cerita masih melibatkan Michael membunuh banyak korban, terutama mengejar-ngejar Laurie!

Beberapa adegan juga bisa bikin kita teringat sama versi originalnya. Seperti misalnya saat adegan cucu dari Laurie, Allyson (Andy Matichak), berjalan dengan temannya sepulang sekolah di pelataran kompleks. Atau saat Michael menyerang salah satu rumah di mana penghuninya sedang melakukan adegan panas.

Bahkan opening sequence-nya seakan jadi homage tersendiri dengan menampilkan sebuah labu yang menyeringai di antara barisan nama aktor yang bermain, lengkap dengan iringan theme song khas gubahan dari John Carpenter yang fenomenal.

Masih ingat, nggak? Musik yang ini nih yan saya maksud…

I love this song!

Tapi terlepas dari kesamaan-kesamaannya… film ini masih bisa hadir dengan lebih menegangkan dibanding film pertamanya.

Intensitas ketegangan yang meningkat

via theverge.com

Mungkin karena akhirnya bisa menghirup udara bebas setelah kelamaan dikurung, Michael jadi lebih liar dan sadis. Ia bahkan ditampilkan makin beringas dengan membunuh siapa pun yang ada di depan matanya tanpa pandang bulu. Intinya, Michael jadi nggak terlihat ‘malu-malu’ lagi dalam urusan bunuh-membunuh.

Konsekuensinya, darah dan kekerasan yang ditampilkan dalam banyak adegan mungkin bakal bikin sebagian penonton yang nggak terbiasa melihat dua hal itu jadi sedikit nggak nyaman. Tapi jika kamu menyukai hal-hal seperti itu, kamu bakal merasa terpuaskan! Momen saat Michael kabur dan menghabisi beberapa korban yang ditemuinya di pom bensin adalah contoh adegan yang cukup menegangkan dalam film.

Kalau mau dibandingkan, di film pertamanya sajian gore yang dihadirkan cenderung nanggung, bahkan terlihat alakadarnya kalau ditonton sekarang. Di sinilah letak kelebihan dari Halloween versi 2018. Sebagai sebuah sajian sekuel yang hadir di zaman sekarang, Halloween 2018 hadir dengan intensitas kengerian dan sisi sadis yang mengungguli film pertamanya.

Sisi thriller dan gore  memang jadi bahan jualan utama Halloween. Meskipun kalau kamu membutuhkan alasan logis, Halloween sebenarnya hadir dengan jalan cerita yang lemah. Motif Michael dalam membunuh masih nggak terjawab sampai film berakhir.

Hal tersebut jadi mengamini dugaan yang mengarah bahwa Michael membunuh hanya untuk bersenang-senang, suatu hobi sakit yang bikin banyak orang ketakutan. Pertanyaan yang sama terkait kenapa ia terus mengincar Laurie meski sudah menghabisi banyak korban lain juga masih belum terjawab.

Pun demikian, kamu bisa mengenyampingkan lemahnya jalan cerita yang disajikan Halloween. Toh hakikatnya film model ini hadir sebagai sajian thriller mainstream yang memacu adrenalin penonton. Dan itu juga bukan berarti saya menginginkan penjelasan logis kenapa Michael bisa menjadi monster pembunuh menakutkan.

Halloween versi 2018 ini sudah lebih dari cukup untuk mengingatkan saya kenapa Michael Myers merupakan salah satu karakter horor paling ikonik.

Editor’s Pick

  • 5 Monster Unik dari Buku Goosebumps yang Bakalan Keren kalau Muncul Filmnya
  • Review Arwah Tumbal Nyai: Awal yang Buruk untuk Sebuah Trilogi
  • 4 Karakter dalam Film Adaptasi Populer Ini Punya Perbedaan 180 Derajat dari Versi Novelnya, Lebih Keren atau…?
  • Review Peppermint: Isu Balas Dendam Klise yang Terselamatkan oleh Jennifer Garner
– Advertisement –

sumber: selipan



loading...