1. Home
  2. /
  3. Terpana, Terpukau
  4. /
  5. Review Dancing in The...

Review Dancing in The Rain: Terlalu Mengeksploitasi Penyakit demi Tangis Penonton?


Sering main hujan-hujanan waktu kecil, nggak?

Sewaktu saya SD, bermain-main di tengah turunnya hujan adalah salah satu momen yang membahagiakan. Bahkan hingga saya beranjak dewasa, hujan masih tetap memberikan makna khusus, meskipun saya sudah nggak lagi cengengesan bareng teman sambil hujan-hujanan seperti waktu kecil dulu.

Kerinduan saya akan momen menikmati guyuran hujan cukup terobati lewat karya terbaru Screenplay Films dan Legacy Pictures, Dancing in The Rain. Kalau dialihbahasakan ke bahasa Indonesia mungkin bisa diartikan jadi ‘Menari di Bawah Hujan’ kali ya.

Lalu bagaimana cara Dancing in The Rain mengajak kita menari bersama?

Hujan memang membawa rindu

Diceritakan bahwa Banyu kecil (Gilang Olivier) adalah seorang anak yang menderita spektrum autis. Meski didiagnosa menderita spektrum autis, Banyu yang tinggal bersama neneknya (Christine Hakim) itu punya kecerdasaan intelektual di atas rata-rata.

Dan satu lagi, ia memiliki ketertarikan terhadap hujan. Bersama sahabatnya, Radin (Joshua Rundengan) dan Kinara (Greesella Adhalia), Banyu sering menikmati momen-momen menyenangkan di saat hujan tengah mengguyuri tanah.

Namun hujan bukan semata-semata digunakan untuk membuat masa kecil terlihat menyenangkan; Dancing in the Rain membawa hujan pada maknanya tersendiri. Hujanlah yang akan membawa kenangan pada ketiga karakter utama. Akan ada satu adegan menjelang akhir, di mana hujan betul-betul menjadi elemen penambah rasa dalam film ini.

Hujan memang membawa rindu ya, Nak/via youtube.com

Eksploitasi penyakit yang berlebihan?

Menjadikan penyakit sebagai sumber utama konflik memang sudah sangat sering diterapkan di film Indonesia. Bahkan beberapa di antaranya mendapat jaminan laris berkat penyakit. Sebut saja Heart (2006), Surat Kecil untuk Tuhan (2011), dan Assalamualaikum Beijing (2014). Biasanya sih, penyakit dijadikan sebagai bentuk ujian keikhlasan di antara para karakter film.

Bagaimana dengan Dancing in the Rain sendiri?

Tanpa diduga, detik-detik pertama durasi film yang langsung melibatkan penyakit sudah membawa saya pada pengalaman yang emosional. Adegan pembuka yang menceritakan bagaimana seorang Banyu bisa didiagnosa spektrum autis dilukiskan dengan syahdu. Kilas balik masa-masa kecil Banyu yang diiiringi narasi penjelasan psikolog (Ayu Dyah Pasha) mengenai kemungkinan penyebab spektrum autis bisa dikata merupakan bentuk kedewasaan bertutur sang sutradara, Rudi Aryanto, dalam memberikan informasi sekaligus menarik penonton untuk ikut peduli pada karakter Banyu.

via youtube.com

Paruh pertama Dancing in The Rain terasa menjanjikan sebagai sebuah film yang tak hanya menjadikan penyakit sebagai sumber air mata penonton. Terlebih persahabatan mereka sewaktu kecil dieksplorasi lebih dalam sehingga membuat saya peduli tak hanya pada Banyu, tapi juga dua karakter utama lainnya.

Sayangnya, Tisa TS (penulis naskah Magic Hour & London Love Story) yang berkolaborasi dengan produser Sukdev Singh, terlalu terlena dalam mengeksploitasi penyakit sebagai sumber kesedihan. Tokoh Kinara (Bunga Zainal) juga dilukiskan memiliki penyakit tertentu. Tapi, karakterisasi Kinara  justru punya sisi minus dalam hubungannya dengan isi cerita.

“Maksudnya gimana, Bung?”

Jadi gini, menurut saya penyakit Kinara hanya menjadi kepingan tersendiri yang terpisah dalam film. Sehingga ketika Dancing in the Rain berkisah tentang Kinara, seakan-akan emosi film mendadak hilang dan baru tersambung kembali ketika scene beralih lagi ke Banyu.

Scene yang melibatkan mereka kayaknya memang tak perlu ada, hanya memperlama durasi saja/ via youtube.com

Saya sampai sempat berpikir, apakah seseorang yang berkebutuhan khusus harus mendapat teman yang juga berpenyakit?

Kisah persahabatan yang jarang digali

Secara keseluruhan Dancing in the Rain mengingatkan saya pada Heart (2006) yang dibintangi Nirina Zubir, Irwansyah, dan Acha Septriasa. Kesamaannya terdapat pada cerita persahabatan tiga orang teman dan akan ada salah satu di antara mereka yang berkorban demi yang lainnya. Dan bisa dibilang bentuk pengorbanannya pun sama.

Bedanya, karakter pada Heart terlibat cinta segitiga; dua orang wanita mencintai pria yang sama. Sementara Dancing in the Rain lebih berfokus pada sisi persahabatan. Meski Radin dan Kinara pun terjebak cinta, tapi Banyu tetap berada dalam posisi sebagai sahabat bagi Radin.

Dari cerita inilah, karakterisasi Kinara semakin menjadi tak penting. Penyebabnya nggak lain karena Dancing in the Rain justru lebih fokus pada persahabatan Banyu dan Radin. Bahkan ada saatnya Kirana menghilang cukup lama di layar.

Yeah, dapat boneka besar dari permainan ini/via youtube.com

Satu kelebihan lainnya, kisah persahabatan remaja antar dua orang pria yang salah satunya menderita penyakit memang jarang digali di perfilman Indonesia. Beberapa film yang menjadikan penyakit sebagai sumber konflik, biasanya menyematkan penyakit itu pada karakter perempuan.

Ya, silakan saja perhatikan para tokoh di film berikut; Sebuah Lagu untuk Tuhan (2015), Air Mata Surga (2015), Pinky Promise (2016), hingga I am Hope (2016). Semuanya tokoh perempuan ‘kan?

Kalaupun ada tokoh lelaki yang menderita penyakitnya, biasanya dihubungkannya ke tokoh keluarga, seperti karakter yang diperankan Naufal Azhar dalam Ayah Menyayangi Tanpa Akhir (2015). Atau ada juga yang dihubungkan ke tokoh perempuan, seperti karakter Marcel Chandrawinata dalam Pupus (2011) yang berpasangan dengan Donita.

Andai saja Dancing in the Rain fokus menggali persahabatan Banyu dan Radin, mungkin itu akan menjadi hal baru di perfilman kita. Terlebih karakter di sekitar mereka, seperti ibunya Radin (Djenar Maesa Ayu) pun sudah diciptakan cukup apik dalam membantu pengembangan cerita.

Apa saya saja yang merasa scene ini tidak ada di filmnya? Karena yang ada justru merayakan ulang tahun Kinara/via youtube.com

Akting Dimas Anggara yang berani beda

Jika kamu urung menonton film ini karena khawatir naskah Tisa TS agak geli di telinga, tenang saja. Dancing in the Rain bukan drama percintaan ala-ala film Michelle Ziudith yang banyak mengumbar kata-kata. Meski di beberapa bagian, kelebayan khas Tisa masih terasa, tapi Dancing in the Rain bergulir dengan cukup syahdu dan tak banyak mengumbar dialog. Justru Dancing in the Rain banyak memainkan ekspresi para aktor dengan iringan musik yang minimalis.

Bahkan penampilan singkat Niniek L. Karim pun mampu menguras emosi./ via youtube.com

Dimas Anggara yang dipercaya memerankan Banyu besar pun berhasil memerankan perannya dengan baik. Dancing  in the Rain seakan menjadi kesempatan emas bagi Dimas Anggara untuk mengembangkan kemampuan aktingnya, setelah sebelumnya Dimas Anggara lebih banyak diasah pada drama remaja yang minim karakterisasi, selain digambarkan sebagai cowok ganteng dan mapan.

Boleh lah sekali-kali piala citra diisi oleh aktor-aktor muda dan populer/via youtube.com

Jika tujuannya membuat penonton menangis dan peduli pada karakternya, bisa dikatakan Dancing in the Rain berhasil melakukannya. Namun sebagai sebuah bentuk edukasi, Dancing in the Rain masih setengah hati dalam bereskplorasi.

– Advertisement –

sumber: selipan



loading...