1. Home
  2. /
  3. Terpana
  4. /
  5. Kontroversi Fenomena Dicawapreskan Ustadz...

Kontroversi Fenomena Dicawapreskan Ustadz Abdul Somad, Ulama Pemersatu Umat


Fakta-fakta atas fenomena yang terjadi pada Ustadz Abdul Somad

Ustadz Abdul Somad memang dikabarkan ikut andil menjadi cawapres periode sekarang ini. Namun kabar itu dibantah oleh Ustad Abdul Somad karena beliau ingin fokus pada dunia dakwah. Bagaimana tanggapan masyarakat tentang hal tersebut?? Berikut fenomena yang terjadi


Image from detik.com

Seperti yang dilansir oleh detik.com, Ustadz Abdul Somad sedang mendapat giliran. Mungkin itu istilah yang saya ingin pakai. Bahwa di negara kita dari dulu silih berganti dai dan ustadz yang populernya selangit. Tentu melalui wadah dan media yang berbeda.

Pernah ada Hamka dengan keahlian agama dan ketegasannya dalam menegakkan hukum Allah. Pernah ada KH Hasyim Nurseha dengan kedekatannya dengan keluarga Soeharto, dan ceramah-ceramah Radio Kayu Manis-nya yang terkenal.

Tapi, yang popular dengan massa besarnya, tumbuhlah dai-dai dan ustadz di belakang hari. Ada KH Zainuddin MZ yang dikenal sebagai dai sejuta umat. KH Abdullah Gymnastiar atau yang lebih popular dengan nama Aa Gym yang memiliki magnet karena bahasanya yang selalu santun. Demikian juga dengan Arifin Ilham dengan senjata zikirnya yang digandrungi masyarakat.

Tiba-tiba sejak setahun lebih ini, bersamaan dengan booming-nya media sosial, muncullah seorang ustadz yang daya magnetnya beyond rational judgement (di luar batas pemikiran rasional). Artinya, ketertarikan masyarakat kepada ceramah-ceramahnya itu terkadang membuat sebagian ternganga. Di mana-mana, di kota maupun di kampung-kampung terpencil dia ibarat gula bagi semut-semut yang kelaparan.

Baca juga : Sempat Masuk Kandidat Cawapres, ini 4 Alasan Ustadz Somad Menolak Prabowo

Ustadz Abdus Somad menjadi idola umat, hampir pada semua segmennya. Umat dari berbagai afiliasi, dengan sedikit pengecualian, menerimanya dengan penuh antusias. Dari kalangan NU, Muhammadiyah, hingga ke mereka yang berafiliasi ke organisasi-organisasi non-religi seperti Pemuda Pancasila, atau sebaliknya juga yang berhaluan khilafah seperti HTI menyenangi ceramah-ceramahnya.

Dari rakyat kecil di kampung-kampung terpelosok, hingga profesor-profesor di perguruan tinggi, juga petinggi Polri dan TNI, bahkan pejabat tinggi negara ingin mengundangnya. Yang pasti Wakil Presiden secara khusus pernah memberikan penghormatan kepadanya di saat memberikan ceramah di sebuah masjid di Jakarta. Bahkan konon kabarnya Presiden RI juga pernah mau mengundang dia. Tapi, jadwal belum memungkinkan untuknya hadir saat itu.

Bukan hanya ceramah-ceramah di darat. Ceramah-ceramah di media sosial, khususnya YouTube menjadi salah satu ceramah yang paling digandrungi. Ceramah-ceramahnya di-upload, diedit, dan dipotong lalu menjadi salah satu ceramah yang paling viral di kalangan masyarakat Indonesia.

Bahkan konon kabarnya ceramah-ceramah itu juga secara diam-diam kerap kali didengarkan oleh teman-teman non-muslim. Mungkin karena memang menarik untuk mereka. Atau, juga karena mencari-cari sesuatu, positif atau negati, allahu a’lam.

Apapun itu saya tetap melihat bahwa itu adalah fenomena alam dalam sunnatullah. Setiap masa ada rijal-nya. Dan, dalam dunia dakwah masa kini Ustadz Abdul Somad menjadi rajul min rijalih (satu dari pelakunya).

Boleh jadi di esok hari akan terjadi pergeseran, dan akan muncul yang lain sebagai pelaku utamanya. Itulah dunia kita. Berputar tiada henti, dan pada akhirnya berakhir pula. Kullu man alaih faan (semua yang ada dibatas bumi ini selesai). Demikian penegasan Al-Quran.

Dicawapreskan

Tapi, barangkali yang paling fenomenal adalah munculnya nama Abdul Somad sebagai salah satu nama yang direkomendasikan oleh ijtima’ ulama dan tokoh umat beberapa waktu lalu untuk maju menjadi cawapres di pilpres tahun depan.

Beberapa waktu lalu saya pribadi pernah berniat mengundangnya datang ke Amerika untuk memberikan tausiah kepada masyarakat muslim Indonesia. Keinginan saya itu memang karena didorong oleh kapabilitas sang ustadz dalam menyampaikan pesan-pesan Islam yang “menyatukan”.

Artinya, ceramah-ceramah Abdul Somad masih steril dari keberpihakan, kecuali kepada kebenaran yang diyakininya. Dan, karenanya saya menilai dia bisa tampil sebagai sosok yang akan merekatkan kembali berbagai elemen dalam masyarakat muslim Indonesia.

Intinya saya termasuk salah seorang yang senang dengan pendekatan keislaman Ustadz Abdul Somad. Apalagi undangan ke Amerika ketika itu saya lakukan pasca dirinya dicekal masuk Hong Kong. Saya ingin menyampaikan bahwa Amerika is “better than Hong Kong” dalam hal freedom of speech.

Sayang dia menyampaikan permintaan maaf karena menurutnya saat itu tekanan-tekanan sangat berat. Karenanya ia berjanji untuk memenuhi undangan saya tahun depan setelah Pilpres 2019.

Terpilihnya Abdul Somad untuk direkomendasikan menjadi cawapres di pilpres tahun depan, apalagi oleh ijtima’ ulama dan tokoh muslim nasional tentu bukan sembarangan. Kita tidak tahu jangan-jangan di kalangan ulama itu memang ada yang telah mendapat “ilham” dari salat-salat istikharah yang mereka lakukan.

Terpilihnya Abdul Somad sebagai cawapres oleh ijtima’ ulama dan tokoh nasional menunjukkan bahwa dia punya maqoom (posisi) khusus di mata mereka. Kehormatan dan kemuliaannya ada di mata massa dan ulama. Semoga ini adalah indikasi kemuliaannya di mata penguasa langit dan bumi.

Maka, rekomendasi itu bagi saya sangat mengagumkan. Bahwa Ustadz Abdul Somad memang diterima di semua kalangan. Bukan hanya rakyat di kalangan masyarakat biasa. Tapi juga ulama, tokoh nasional, bahkan politisi.

Lebih Kagum

Walaupun rasa emosional saya mengatakan alangkah baiknya jika Ustadz Abdul Somad menerima tawaran menjadi cawapres, saya kemudian tersadarkan kembali oleh sikapnya yang tegas dalam kesantunannya menolak tawaran itu. Saya menjadi lebih kagum dengan sikap itu.

Kenapa demikian? Bukankah negara dan bangsa saat ini dipersepsikan dalam keadaan darurat dan perlu seorang “guardian angel” untuk menyelamatkannya? Citra kepemimpinan nasional juga dibangun secara masif sebagai anti Islam dan anti kepentingan Islam. Benar atau tidak, citra ini sendiri bukannya memerlukan pemimpin muslim yang sejati seperti Ustadz Abdul Somad?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, perkenankan saya menyampaikan apresiasi besar kepada ijtima’ ulama dan rekomendasinya. Bahkan apresiasi besar kepada para ulama, di semua kubu, yang sekarang ini tidak lagi malu-malu dan menganggap politik praktis itu sesuatu yang tabu bahkan busuk.

Bangsa Indonesia, bahkan sebelum negara Indonesia resmi berdiri, tidak pernah melepaskan agama dari perjuangan publik, termasuk politik. Dari perjuangan kemerdekaan, ke perumusan dasar-dasar negara, hingga di awal-awal bernegara, agama dan politik tidak pernah dipisahkan. Dari dulu tidak pernah ada yang mempermasalahkan Partai NU atau Masyumi, misalnya.

Dan, karenanya tahun-tahun terakhir ketika ada sebagian kalangan yang mempertanyakan “legitimasi” ulama dalam politik nasional, itu adalah kekeliruan bahkan pembodohan sejarah. Bahwa ulama dan perjuangan kebangsaan itu bagaikan darah dagingnya bangsa ini.

Oleh karenanya ijtima’ ulama itu adalah “afirmasi” dari tradisi bangsa yang mendarah daging. Mempertanyakannya adalah bentuk gagal paham atau pura-pura tidak paham. Atau, boleh jadi bagian dari upaya pengkhianatan ideologi bangsa yang memang solid dalam “berketuhanan”.

Lalu, apa yang menjadikan saya kagum atau tepatnya “lebih kagum” dengan sikap Ustadz Abdul Somad menolak menerima rekomendasi itu?

Pertama, sudah pasti ketidaksediaannya menjadi cawapres di pilpres tahun depan itu akan menimbulkan kekecewaan kepada sebagian. Saya kira ini sangat wajar. Karena ketika sesuatu dilihat dengan pandangan emosional, akhirnya akan melahirkan reaksi emosional pula.

 Tapi, sang ustadz membuktikan bahwa dalam melakukan sesuatu itu bukan mencari “senangnya” orang, bahkan yang mayoritas sekalipun. Melainkan, mana yang lebih “ashlah” (lebih baik dan sesuai) bagi kepentingan umum.

Kedua, keputusan politik di Indonesia secara konstitusi adalah wewenang partai politik. Karenanya ijtima’ ulama dan tokoh nasional bukan sebuah keputusan tapi rekomendasi. Hal ini dipahami betul oleh Abdul Somad bahwa rekomendasi itu tidak mengikat, baik secara syar’i maupun konstitusi.

Ketiga, Abdul Somad sadar bahwa ijtihad politik itu sifatnya manusiawi. Dan, kerap kali ijtihad politik itu dipengaruhi oleh citra politik yang terbangun. Lagi, parahnya pula citra politik ini tidak jarang didominasi oleh kepentingan-kepentingan sempit. Karena bersifat manusiawi, maka ijtihad itu bisa benar tapi juga bisa keliru.

Keempat, Abdul Somad menyadari realita dalam dunia perpolitikan di Indonesia saat ini. Bahwa pada semua kubu ada kelompok-kelompok Islam, bahkan ulama yang selama ini tidak diragukan kredibilitasnya.

 Bahkan disebutkan jika kubu-kubu yang berseberangan masing-masing melirik ulama atau tokoh umat untuk digandeng menjadi cawapresnya.

Jelas hal ini akan membingunkan umat, bahkan boleh jadi memecah umat ke depan. Dan, karenanya sangat “bijak” ketika sang ustadz tidak melibatkan diri dalam memperbesar kemungkinan kebingungan dan perpecahan umat itu.

Kelima, dan inilah poin yang paling saya kagumi. Abdul Somad sadar betul bahwa pada masing-masing individu ada kelebihan-kelebihannya. Tapi, bukan berarti dia lebih dalam segala hal.

Baca juga : Dibilang Tak Berani Nyalon Wapres, Ini Jawaban Telak Ustadz Somad Buat yang Meremehkannya

Seseorang yang ahli agama, hebat dalam orasi, bahkan mampu menjadi magnet massa yang besar, belum tentu hebat dalam kepemimpinan publik (politik). Sadar diri itu adalah modal keselamatan. Banyak orang yang terjatuh ke dalam jurangnya karena tidak sadar siapa dirinya yang sesungguhnya.

Tapi, yang paling mengagumkan dari semua itu adalah kenyataan bahwa di tengah-tengah, dengan memakai kata positif “perlombaan” atau memakai kata negatif “ketamakan” untuk mendapatkan kartu pancalonan itu, dia yang jelas didukung oleh ulama atau sebagian ulama dan tokoh umat, menolak.

Tentu bukan lari dari tanggung jawab, apalagi seperti yang mulai disebut oleh sebagian sebagai lari dari kata-katanya sendiri. Maklum selama ini Abdul Somad mengadvokasi urgensi kekuasaan dalam memperjuangkan kepentingan Islam dan umat.

Dia menolak karena memang sadar bahwa dirinya bukan di bidang itu. Dia ahli ceramah dalam ilmu agama, diterima luas, dan memungkinkan untuk menang. Tapi, dia sadar terpilih bukan tujuan dalam berpolitik. Modal politik juga bukan hanya baik (kredibilitas). Tapi, juga tak kalah pentingnya adalah kesesuaian dan kapabilitas.

Tidak kalah pentingnya politik harus tetap menjaga kepentingan bangsa dan umat yang besar. Dan, sudah pasti kepentingan umat dan bangsa terbesar saat ini adalah tetap terjaganya kesatuan dan kebersamaan untuk membangun negara dan bangsa yang kuat dan menang.

Dan, sebagaimana dikatakannya sendiri, keikutsertaan semua elemen bangsa dalam membangun bangsa ini tidak harus lewat satu pintu. Bukan hanya pintu politik. Tapi, melalui banyak pintu. Biarlah dia tetap menjadi suluh (lentera) umat dalam dakwah dan pendidikan. Sementara yang lain ada ahlinya.

Kira-kira persis seperti pesan Nabi Ya’qub AS kepada putra-putranya, “Masuklah dari pintu-pintu yang berbeda.”

Semoga Ustadz Abdul Somad selalu dijaga dalam keistiqamahannya. Semoga Indonesia menemukan pemimpin yang berkapasitas untuk mendayuhnya ke pulau idamannya. Negara yang berkarakter baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. 

sumber : wajibbaca



loading...