1. Home
  2. /
  3. Terpukau
  4. /
  5. Jalur pendakian ini ditutup...

Jalur pendakian ini ditutup pada awal 2018


Ilustrasi para pendaki memandang puncak Gunung Semeru, Jawa Timur.

Ilustrasi para pendaki memandang puncak Gunung Semeru, Jawa Timur. | mahos /Shutterstock.com

Pehobi daki gunung, boleh jadi sedang menyusun rencana mendaki beberapa gunung, mengawali tahun 2018. Perlu diketahui, beberapa jalur pendakian ditutup pada awal tahun 2018.

Alasan penutupan beragam. Mulai dari faktor cuaca, bencana alam, penataan ekosistem, atau aktivitas reboisasi hutan.

Menukil situs Gunung Indonesia, beberapa gunung yang menutup jalur pendakiannya mencakup dua gunung di Jawa Barat, dua gunung di Jawa Tengah, satu gunung di Jawa Timur, dan satu gunung di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pemulihan ekosistem Gunung Merbabu

Jalur pendakian gunung di wilayah Jawa tengah yang juga mengalami penutupan adalah Gunung Merbabu (3.145 mdpl).

Pengumuman tersebut tertera dalam akun Instagram resmi Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM), yang mengumumkan penutupan seluruh jalur pendakian 1 Januari hingga 28 Februari 2018.

Dalam unggahan pengumuman tersebut disebutkan alasan penutupan jalur adalah untuk kepentingan pemulihan ekosistem.

Perbaikan ekosistem Gunung Gede-Pangrango

Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (BBTNGGP), seperti ditulis Antaranews, menutup sementara jalur pendakian untuk umum atas dua gunung setinggi 2.958 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan 3.019 mdpl tersebut dalam rangka pemulihan ekosistem.

“Penutupan jalur pendakian dimulai 1 Januari hingga 31 Maret 2018 sesuai surat edaran nomor: SE.1720/BBTNGGP/Kabidtek/Tek.P2/12/2017,” kata Plt Kepala BBTNGGP Herry Subagiadi.

Surat edaran itu, lanjut Herry, sudah disebar ke berbagai intansi terkait, seperti dinas pariwisata Sukabumi maupun Cianjur untuk mengantisipasi adanya pendaki ilegal yang nekat menerobos jalur pendakian.

Pihak BBTNGGP juga sudah menyiagakan petugas dan polisi hutan serta dibantu relawan untuk menjaga jalur tersebut, serta akan menindak tegas pendaki yang nekat menerobos.

Alasan lain ditutupnya jalur pendakian itu adalah sebagai antisipasi cuaca. Seperti dilaporkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), selama Januari-Maret 2018 kawasan itu akan diguyur hujan deras.

Namun Herry mengatakan bahwa beberapa objek wisata di sekitar TNGGP, seperti Danau Situgunung dan beberapa objek wisata lainnya masih dibuka untuk umum.

Cuaca buruk di Gunung Salak

Sebelumnya jalur pendakian di kawasan Gunung Salak (2.211 mdpl) melalui Cimalati, Kampung Elos, Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, juga telah ditutup sejak 5 Desember 2017 oleh Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), dan akan dibuka sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Akan tetapi seperti ditulis Kumparan, banyak para pendaki yang belum mengetahui kebijakan tersebut.

Perbaikan jalur dan reboisasi Gunung Prau

Jalur pendakian kawasan pegunungan lain yang juga ditutup adalah jalur Gunung Prau, Jawa Tengah. Penutupan itu disampaikan melalui surat edaran Perum Perhutani tertanggal 11 Desember 2017.

Gunung setinggi 2.565 mdpl itu memang cukup populer di kalangan pendaki karena pemandangan dari puncak Prau yang elok, baik pada pagi, siang, maupun malam hari.

Seperti dikabarkan Kompas.com, pihak Perum Perhutani, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara, menutup jalur tersebut mulai 5 Januari hingga 4 April 2018.

Selama penutupan itu, maka akan dilakukan perbaikan jalur-jalur pendakian hingga kegiatan penghijauan/konservasi.

Kepala Urusan Komunikasi Perusahaan Perhutani KPH Kedu Utara Divisi Regional Jawa Tengah, Herman Sutrisno mengatakan, hal tersebut bertujuan untuk keamanan dan kenyamanan pendaki setelah masa penutupan.

Senada dengan Herman, Raybowo, Ketua Forum Koordinasi Gunung Prau Indonesia (FKPI) mengatakan alasan lain penutupan jalur adalah untuk reboisasi.

Penutupan dan aksi penghijauan ini merupakan kesepakatan dari semua basecamp yang tergabung dalam FKPI Gunung Prau. Tercatat ada delapan basecamp, berasal dari lima kabupaten berbeda, yaitu Pranten, Dwarawati, Dieng, Kalilembu, Patakbanteng, Igirmranak, Wates, dan Kenjuran.

Hujan deras dan konservasi satwa kawasan Semeru

Sementara di kawasan Jawa Timur, salah satu jalur pendakian paling favorit yakni Gunung Semeru pun ditutup mulai 1 Januari 2018, melalui pengumuman yang tertuang dalam surat pengumuman Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), nomor PG.4/T.B/BIDTEK/BIDTEK.1/KSA/12/2017.

Otoritas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup sementara jalur itu untuk sampai tiga bulan mendatang, seperti dikatakan Kepala Seksi III Pengelolaan Taman Nasional, Bidang Pengelolaan Wilayah II (TNBTS), Budi Mulyanto, dalam Tempo.co.

Budi mengatakan penutupan jalur pendakian gunung tertinggi di Pulau Jawa itu (3.676 mdpl) diberlakukan karena dua hal.

Pertama, kondisi cuaca pada Januari hingga tiga bulan berikutnya yang diprediksi kurang mendukung, seperti angin kencang dan hujan deras. Kemudian terkait dengan pemulihan ekosistem di sekitar kawasan.

Kawasan Gunung Semeru, lanjut Budi, merupakan tempat habitat satwa prioritas TNBTS, seperti elang Jawa dan macan tutul. Bahkan di sekitar Oro-oro Ombo, ketika pendakian ditutup selama tiga bulan pada tahun-tahun sebelumnya telah ditemukan jejak-jejak satwa sejenis kucing hutan.

Dia berharap pada masa pemulihan ekosistem, itu juga bisa memberikan kesempatan pada anggrek-anggrek di seputar kawasan untuk berkembang. Jalur pendakian ditutup total di mulai dari Pos Ranupani, Ranu Kumbolo, hingga Kalimati.

Cuaca ekstrem jalur Rinjani

Jalur pendakian gunung di luar Pulau Jawa yang juga ditutup adalah akses menuju Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara barat (NTB).

Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) akan menutup semua jalur pendakian gunung setinggi 3.726 mdpl itu mulai 1 Januari hingga 31 Maret 2018. Alasannya karena cuaca ekstrem yang membahayakan keselamatan pendaki.

“Penutupan jalur pendakian mempertimbangkan kondisi cuaca di atas gunung dan untuk kepentingan pemulihan kawasan taman nasional,” kata R Agus Budi Santosa, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), menukil Republika.co.id.

Informasi ini, lanjut Agus, sudah disebar satu bulan lebih awal ke semua pihak yang berkepentingan, seperti Dinas Pariwisata NTB, dan kabupaten/kota serta para pelancong.

Secara umum ada empat jalur pendakian Gunung Rinjani yang tersebar, yakni di Sembalun, Timbanuh (Kabupaten Lombok Timur), Senaru (Kabupaten Lombok Utara), dan Aikberik, (Kabupaten Lombok Tengah).

sumber : beritagar



loading...