1. Home
  2. /
  3. Terpana
  4. /
  5. Cara Bentengi Diri dan...

Cara Bentengi Diri dan Keluarga dengan Iman Agar Tak Sampai Tega Menghajar Anak



Foto via tribunnews.com

Ya begini jadinya kalau rumah tangga tak didasari agama yang kuat.

Setan-setan mudah merasuki dalam setiap masalah yang semakin banyak dan menjerumuskan manusia kedalam api neraka, seperti peritiwa sadis ini

Seorang ibu yang telah ditutupi dengan kabut hitam dalam hatinya, tega menganiyaya anak dengan membabi buta gara-gara suami selingkuh.

Kasus penganiayaan yang dilakukan oleh orangtua pada anaknya kembali terjadi.

Seorang ibu yang diduga asal di Kalimantan Timur tega menyakiti anaknya sendiri gara-gara tak terima dengan kelakuan suaminya.

Ia melampiaskan kemarahannya pada sang anak yang masih balita sebagai ancaman pada sang suami.

Dari video yang beredar di media sosial, wanita yang diduga ibu balita itu merekam dan menggunggah tindakannya itu ke Facebook.

Entah apa yang dilakukannya, balita hanya hanya memakai singlet atau baju tanpa lengan itu tampak hidungnya mengeluarkan darah.

Dalam video ia juga terlihat memukuli bocah sambil mengeluarkan ancaman yang dialamatkan pada suaminya.

Ia meminta suaminya memilih anaknya atau wanita selingkuhannya.

Baca juga : 4 Stadium yang Dilewati Seseorang Teroris Agar Berani Lakukan Bom Bunuh Diri

Entah apa yang merasuki wanita itu sehingga ia melampiaskan kekesalan itu pada anaknya.

Ia juga bahkan meminta sang anak untuk menyuruh ayahnya pulang.

Atau kalau tidak, ia mengancam akan membunuh anaknya tersebut.

Video itu kabarnya diposting oleh sang ibu di akun Facebooknya sendiri.

Menurut informasi yang beredar, saat ini akun Facebooknya sudah dihapus, namun polisi dengan mudah bisa menemukannya karena ia memposting di akunnya sendiri.
Wanita itu pun sudah diamankan oleh pihak kepolisian, namun belum dilakukan penahanan.

Video itu kemudian diposting ulang oleh akun Instagram @lambe_turah, Kamis (24/5/2018).

#HELP #SaveThisChild

Suaminya nya selingkuh, ibu ini ancam akan membunuh anak nya, lokasi di Sambaliung, Kab. Berau, Kalimantan Timur. Anak ini di siksa hingga berdarah darah oleh Ibu kandung nya

((ini yang upload pertama kali ke FB adalah ibu nya sendiri ya, FB nya sudah di delete dan karena dia upload di FB memudahkan Polisi mengendus keberadaan nya, pelaku sudah tercyduk namun belum di lakukan penahanan, untuk sementara masih wajib lapor))

@komisiperlindungananak_ri
@kemenpppa

Berikut ini video dari facebook ibu anak yang disiksa : 

NB: Video yang tercantum termasuk video kekerasan silahkan lihat DISINI

Apa yang dilakukan oleh wanita itu mendapat kecaman dari warganet:

woelansarie Ya allah gila itu kasian anknya.masa pelampiasan ke anaknya…stresss tu..kasi gw sini anknya..

rzakhiya Astagfirullah , anak kecil gak tau apa2

elshavanesya Aduuhh tuhan.. Miris x.. Sakit nya hati ku ngeliat yaa Tuhan.. Tolong anak ituu

dwiesiinta Gebukin bapaknya sm selingkuhannya donk bu, jgn anak !!!

lala_tama Sudah depresi berat kayaknya, kalo udah depresi jangan pada nanya nurani ibu, jauhi anak dr si ibu, sampai si ibu sehat kembali, #savechildren

sitisweet2804 Jgn anak jd luapan emosi ketika terjadi masalah dlm rumah tangga,tetapi berusaha berkepala dingin menghadapinya apa lg ini bulan puasa, bulan yg suci.insyaallah semua doa akan dikabulkan dibulan yg penuh berkah.saya juga punya anak sakit rasanya melihat kyk gini.

Menyikapi hal ini kami mengingatkan kembali, bila keluarga didasari dan dipondasikan dengan agama yang kuat pasti menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.

Peristiwa yang dilakukan ibu seperti yang diceritakan diatas, karena ibu tersebut dirasuki setan dengan amarah yang menggebu-gebu. Apapun rela iya lakukan bahkan anknya sendiri jadi korban,

Karena pikiran dan hatinya sudah ditutupi dengan amarah dari setan yang membutakan ibu tersebut.

Ditambah lagi bila ibu tersebut kurang iman dan tidak punya hati nurani, hal ini yang membuat setan semakin senang dan mudah mempengaruhi manusia.

Untuk itu berikut ini cara membentengi keluarga agar sakinah, mawadah, warahmah dan selalu bahagia didunia maupun di akhirat.

Baca juga : Hobi Minum Teh Kemasan dan Soft Drink, Bocah 11 Tahun ini Meninggal Kekurangan Air Putih

Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang pedih 

Kebaikan keluarga akan berpengaruh kepada kebaikan masyarakat, dan kebaikan masyarakat akan berpengaruh kepada kebaikan negara. Oleh karena itulah agama Islam banyak memberikan perhatian masalah perbaikan keluarga.

Di antara perhatian Islam adalah bahwa seorang laki-laki, yang merupakan kepala rumah tangga, harus menjaga diri dan keluarganya dari segala perkara yang akan menghantarkan menuju neraka. Marilah kita perhatian perintah Allâh Yang Maha Kuasa berikut ini :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [at-Tahrîm/66:6]

Cara Islam Mewujudkan 8 Fungsi Keluarga

Begitu pentingnya peran keluarga dalam masyarakat dan bangsa ini. Keluarga secara idealmemiliki 8 fungsi. Namun kondisi ini kini tidak banyak lagi ditemukan dalam masyarakat.

Pertama, fungsi reproduksi. Keluarga melalui pernikahan memiliki tujuan untuk melestarikan keturunan. Tapi fungsi ini tidak sepenuhnya terlaksana. Pasalnya selain karena takdir Allah, pola hidup yang tidak sehat juga memicu tidak terpenuhinya fungsi reproduksi.

Di lain pihak, banyak keluarga-keluarga yang membatasi jumlah anak karena takut biaya yang mahal, dan malu jika memiliki banyak anak.

Selain itu kebanyakan wanita karir cenderung tidak ingin punya anak dengan alasan ingin mencari karir, kepuasan kehidupan dunia. Ketika kita mencermati ternyata justru funsi ini dipenuhi oleh para remaja hasil dari pergaulan bebas.

Tanpa pernikahan, hanya berkedok cinta atau suka sama suka. Dari sini individu yang beriman dan bertakwa sangat diperlukan untuk membangun keluarga.

Agar fungsi reproduksi tidak terhenti, dan generasi yang dilahirkan pun adalah generasi terbaik.

Kedua, fungsi ekonomi. Kemandirian keluarga terbentuk dengan adanya pemenuhan kebutuhan ekonomi. Keluarga yang mandiri dapat memenuhi semua kebutuhan hidupnya.

Tidak jarang kesulitan dihadapi oleh kepala keluarga dalam mewujutkan fungsi ini. Pengangguran semakin menggunung di kalangan suami.

Laki-laki sulit mencari pekerjaan atau terancam di PHK karena suatu hal. Padahal merekalah yang seharusnya menopang nafkah kebutuhan keluarga.

Di sisi lain, harga-harga kebutuhan pokok terus meroket sehingga nafkah kerap tak mencukupi untuk seluruh anggota keluarga.

Tak heran bila masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan. Jelas, ini sangat mengganggu terwujudnya keluarga bahagia dan sejahtera.

Ketiga, fungsi edukasi. Keluarga seharusnya adalah tempat pertama dan utama dalam membina anak untuk menjadi insan yang beriman dan bertakwa.

Ibu sebagai istri dan pengatur rumah tangga memiliki peranan yang penting dalam membina anak.

Ayah memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan istri dan anaknya ke jalan yang diridloi Allah. Apalah daya jika fungsi ini juga tidak berjalan sempurna. Seorang ibu lebih disibukkan dengan bekerja diluar, kalaupun di rumah mereka justru lebih mementingkan food, fasion, funny.

Keempat, fungsi sosial. Keluarga mencerminkan status sosial, bahkan kadang prestise keluarga itu. Anggota keluarga yang punya pendidikan, menunjukkan sebuah keluarga intelektual.

Anggota keluarga yang saleh dan salehah, menunjukkan keluarga baik-baik. Rumah yang nyaman, rapi dan bersih, mencerminkan taraf hidup keluarga.

Namun, sekarang banyak dijumpai keluarga yang cuek dengan masing-masing anggota keluarganya, apakah anggotanya berperilaku baik atau buruk. Ketika anak berperilaku tak terpuji, nama baik orang tua hancur. Seperti anak terlibat narkoba, hamil di luar nikah atau melakukan tindak kriminalitas.

Baca juga : Efek Buruk Broken Home, Anak 4 Tahun ini Jadi Sasaran Kekerasan Ayah dan Ibu Tirinya

Kelima, fungsi protektif. Melindungi anggota keluarga dari ancaman fisik, ekonomis dan psikososial adalah tanggungjawab keluarga.

Ayah mengayomi istri dan anak, tidak sekedar  melindungi dari bahaya fisik, tapi juga bahaya kelaparan misalnya. Karena itu, secara ideal, anak tidak boleh diterlantarkan.

Membiarkan anaknya gizi buruk atau pergi ke luar negeri menjadi TKI/TKW hingga melalaikan tugasnya sebagai orangtua. Memang, semua terjadi karena kondisi buruk di dalam negeri yang memaksa mereka mengadu nasib.

Keenam, fungsi rekreatif. Keluarga merupakan pusat rekreasi untuk anggota keluarganya. Rumah sebagai sumber kebahagiaan. Setiap anggota keluarga berperan mewujudkan tawa, canda dan kegembiraan.

Seorang ayah tidak membawa masalah kerja ke rumah, ibu yang selalu tersenyum, anak-anak yang selalu gembira.

Namun, banyak masalah yang terjadi di keluarga saat ini, mulai dari  pertengkaran ayah-ibu kerap terdengar, bahkan di hadapan anak-anak hingga berujung pada broken home.

Sehingga anak tidak betah di rumah, adalah pertanda keluarga tidak harmonis sehingga mencari hiburan dan kesenangan di luar rumah.

Ketujuh, fungsi afektif. Keluarga sebagai tempat bersemainya kasih sayang, empati dan kepedulian. Meski hal ini fitrah, namun banyak keluarga yang sudah mengabaikannya. Banyak keluarga yang terasa formal disetiap interaksinya.

Ayah setelah lelah seharian bekerja, hanya menjadikan rumah sebagai tempat tidur saja. Anak-anak yang telah menjadi remaja dan menemukan dunianya, menjadikan rumah sekadar tempat singgah. Hanya sebatas minta uang saku jika ingat ayah dan ibu.

Kedelapan, fungsi relijius. Keluarga adalah tempat pertama anak mengenal nilai keagamaan. Anak-anak dididik agama sejak dini, ayah menjadi imam dan ibu mengenalkan anak-anak pada generasi sahabat. Ayah dan ibu menjadi penyampai ajaran Islam, anak-anak menjadi sasaran pertamanya.

Namun, banyak keluarga yang tak lagi menjadikan agama sebagai pondasi dalam interaksi, melainkan nilai-nilai liberal.

Seperti keluarga yang mengabaikan aspek spirutual, membebaskan anaknya memilih sendiri agamanya, atau menyekolahkan anak ke sekolah beda agama. Hal semacam ini tidak sejalan dengan fungsi relijius.

Jika kedelapan fungsi di atas bisa terlaksana, niscaya keluarga yang sakinah mawaddah warahmah akan tercapai. Namun,harapan itu tinggal angan – angan semata.

Selain pemeran utama dalam keluarga (ayah, ibu dan anak – anak) yang tidak menjalankan fungsinya dengan baik, ada pihak lain yang ikut berperan. Kontrol negara dinilai sangat penting untuk mendukung keharmonisan keluarga. Islam mengatur tugas negara, di antaranya yaitu,

1. Negara berfungsi mengatur urusan rakyat dengan aturan syariat Islam demi kepentingan dan maslahat rakyat

2. Negara berkuasa dan berwenang memaksa setiap warga negara untuk mematuhi hukum yang diberlakukan

3. Negara akan memberikan sanksi kepada siapa saja yang melanggar hukum yang berlaku agar fungsi negara dan masyarakat berjalan dengan baik

4. Negara bersikap adil kepada seluruh warga negara, baik Muslim maupun kafir dzimmy, laki-laki maupun perempuan.

Dengan begitu ketika negara telah menjalankan empat tugasnya dengan benar, delapan fungsi keluarga pun akan tercapai dengan sempurna. Namun, negara saat ini mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Dengan minimnya penanaman akidah dan sanksi pada masyarakat membuat masyarakat dengan semaunya sendiri memenuhi syahwatnya.

Negara juga belum menyediakan lapangan kerja yang memadai bagi rakyatnya, sehingga banyak rakyat yang hidup pengangguran dan berada di bawah garis kemiskinan.

Ketika orang tua terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan, hak anak untuk mendapatkan kasih sayang, pendidikan dalam keluarga, kebahagiaan di rumah pun tidak terwujud. Dan masih banyak lagi peran negara yang lain.

Dalam Islam, negara (khilafah) harus mampu menjalankan segala tugasnya. Inilah institusi yang mengatur urusan umat, baik dalam negeri maupun luar negeri. Ia juga  akan menjaga iman masyarakat, mewujudkan lingkungan yang Islami dan memberikan sanksi yang tegas.

Maka dengan penerapan Islam secara kaffah, akan terwujud keluarga kokoh.

sumber : wajibbaca



loading...